Kamis, 29 Desember 2011

Pertolongan Allah Dari Arah Yang Tidak Disangka-Sangka

Kisah ini merupakan salah satu kisah unik dari sekian kisah unik kehidupan saya. Mendapat anugrah pertumbuhan gigi bungsu yang tidak wajar memberikan kesan tersendiri bagi kehidupan saya. Sejak tahun 2008, saya telah mengalami ketidakwajaran pertumbuhan gigi bungsu ini. Hal ini, saya baca dari riwayat penyakit saya di Puskesmas. Ketika saya memasuki Puskesmas pertama kali, dokter berkata “Anda akan mengalami sakit ini setiap saat, pasalnya gigi bungsu ini harus diambil secara operasi.” Operasi? Banyak sekali pikiran saya yang berkecamuk tentang operasi. Yang biayanya mahal, sakit, dll. Akhirnya saya pun belum memberanikan diri untuk datang ke dokter spesialis gigi dan bedah mulut. Saya menundanya selama 3 tahun.

Tahun 2011, saya ber-azzam untuk segera mengambil atau meng-operasi gigi bungsu saya. Hal ini diperkuat dengan anjuran teman-teman. Bulan berganti bulan, saya pun belum juga memeriksakan diri ke dokter spesialis gigi dan bedah mulut. Saya selalu menahan rasa sakit tersebut dengan obat dokter Puskesmas, “Asam Mefenamat”. Jurus jitu untuk mengobati rasa sakit. Akhirnya pada bulan Juni, saya mencari informasi tentang dokter spesialis gigi dan bedah mulut yang bener-bener ahli dalam meng-operasi gigi. Saya pun mencari referensi beberapa teman yang telah melakukan operasi gigi. Tersebutlah satu nama dokter. Sebut saja dokter A. Saya pun mencari informasi dimana saja dokter tersebut praktek. Akhirnya dari informasi ayah teman saya yang seorang dokter juga, ketemulah klinik dimana dokter tersebut praktek. Memang saya menginginkan untuk operasi di klinik daripada di rumah sakit, karena di rumah sakit lebih terkesan angker dan menakutkan. Perjalanan informasi tentang dokter A pun berlanjut dengan biaya operasi serta fasilitas pendukungnya. Saya pun mendapatkan informasi dari teman bahwa biaya operasi saat teman saya operasi adalah Rp. 800.000,-.

Ternyata dari berbagai informasi tersebut belum juga membulatkan azzam saya untuk melakukan operasi gigi. Hingga bulan Oktober, saya memberanikan diri pergi ke dokter A tersebut. Setelah melakukan periksa dan diskusi dengan dokter A maka dokter A menganjurkan untuk operasi gigi karena apabila tidak dioperasi akan menimbulkan infeksi lebih lanjut. Dokter A pun memberikan informasi tentang biaya operasi gigi yaitu Rp. 1.500.000,- per satu gigi. Melihat ekspresi saya yang agak kaget dengan kenaikan biaya operasi tersebut, dokter A pun menganjurkan saya untuk mencari keringanan biaya lewat asuransi pemkot. Saya pun memenuhi anjuran dokter A tersebut untuk mengurus asuransi pemkot pada bulan itu juga. Setelah dari puskesmas ke puskesmas sampailah ke rumah sakit. Ternyata pengurusan keringanan ini tidak semudah yang saya bayangkan dan kesannya terlalu dipersulit. Mental lah usaha saya saat itu. Saya pun berhenti dan tidak ingin memikirkan tentang operasi ini untuk beberapa saat.

Hingga suatu hari, azzam saya untuk mengambil gigi saya ini masih bulat. Saya pun mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sambil mengumpulkan keberanian untuk berhadapan dengan pisau dan jarum serta benang. Saya pun kembali mendatangi dokter A tersebut dan berkata “Dok, saya operasi di klinik sini saja.” Dokter tersebut tersenyum dan berkata “Gimana hasil cari keringanan kemarin?” Saya pun menjawab “Tidak bisa Dok. Cuman dikasih waktu 1 hari dan saya sudah telat untuk mengurus surat-surat di rumah sakit. Tidak apa-apa saya operasi di sini.” Dokter tersebut tersenyum dan mempersilahkan saya untuk diperiksa. Hingga beberapa saat kemudian dokter tersebut berkata, “Saya beri diskon mbak.” Tak ada angin, tak ada guntur, tiba-tiba dokter tersebut berkata seperti itu. Apalagi saya tidak meminta untuk diberi keringanan. Saya kaget. Asisten dokter tersebut itu berkata, “Jadinya biaya operasi yang harus disiapkan berapa Dok?” Dokter tersebut menjawab, “Enam ratus ribu saja.” Subhanallah.

Bagai Bumi dan Langit

Kun Fa Yakun. Terjadi maka terjadilah. Begitulah kekuasaan Allah terhadap segala sesuatu termasuk dalam urusan jodoh.

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia.” (Al Baqarah : 17)

Ketika Allah mengatakan jadi maka jadi. Begitu pula sebaliknya. Semuanya berada di dalam kehendak Allah. Akhir-akhir ini Allah memberikan pelajaran berharga untuk saya. Fenomena antara kampung dan kantor. Fenomena yang menurut saya bagaikan bumi dan langit.

Kantor, sebuah lingkungan area kerja yang menuntut profesionalisme ternyata membawa rejeki sendiri bagi karyawannya. Salah satunya rejeki yang bernama jodoh. Sungguh, ketika Allah memutuskan segala sesuatu, Ia tidak akan pernah memandang umur ataupun tingkat pendidikan. Teman-teman kantor di usia belum menginjak 20 tahun mereka memberanikan diri untuk menikah dimana masyarakat sering menyebutnya sebagai pernikahan dini. Sedang di sisi lain, saya melihat fenomena tersendiri di kampung rumah saya. Begitu banyak gadis berusia 30 tahun lebih belum juga dikarunia Allah rejeki yang bernama jodoh. Tapi di hari ini Allah telah menunjukkan sebuah kekuasaan Nya, jadilah maka terjadi. Gadis-gadis yang di saat mereka berusia 40 tahun, menemukan jodoh Nya dengan jalan yang diberkahi Allah yaitu perjodohan.

Kedua hal yang menurut saya tidak akan pernah bisa terjadi jika tidak ada campur tangan Allah di sana. Siapa sih yang menginginkan menikah di usia 40 tahun? Tidak ada yang menginginkan. Begitu pula sebaliknya, siapa sih yang menginginkan menikah di usia kurang dari 20 tahun (bagi yang belum siap menikah,red)? Lalu siapa yang harus dipersalahkan? Takdirkah atau kondisi fisik kita ataukah orang tua kita? Tidak ada yang salah. Semua itu sudah menjadi sebuah ketentuan Nya.

Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum : 21)


Jadi, tidaklah risau bagi yang belum menemukan jodohnya. Karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Perbaiki diri dan banyaklah berdoa. Teringat sebuah pesan dari ustadz Salim Al Fillah, ”Terkadang manusia itu tidak terlalu siap dengan pengabulan do’a. Ketika do’a itu Allah kabulkan, malah ia tidak bersyukur pada Allah.Bahkan cenderung mengingkari dengan ke-esa-an Allah” Ustadz Salim Al Fillah menggambarkan sebuah kisah, ada seorang teman beliau yang meminta diberikan rejeki berupa sepotong roti dan segelas susu tanpa harus bekerja untuk menyambung hidupnya. Ternyata Allah mengabulkan doa teman ustadz tersebut dengan jalan di penjara karena kena fitnah. Teman ustadz tersebut berontak dan menggungat Allah. Ia tidak terima dengan ketentuan Allah atas dirinya. Mengapa saya masuk penjara? Mengapa saya di fitnah? Ia tidak sadar kalau setiap hari di dalam penjara ia selalu mendapat sepotong roti dan segelas susu tanpa harus bekerja. Begitulah tabiat asli manusia. Tidak bersyukur dan cenderung mengingkari. Oleh karena itu, ustadz senantiasa menyarankan kepada kita, ”Berdoalah dengan meminta yang terbaik untuk hidup kita.”

Kini, perbaikilah kualitas do’a kita sehingga Allah berkenan merubah takdir hidup kita. Rasulullah bersabda : “Tidak ada yang dapat merubah takdir kecuali doa”.

Selain berdo’a, Teh Ninih pun juga memberikan kiat untuk menjemput jodoh. Berkhusnudzon pada Allah, bertaubat, banyak beramal dan bergaul dengan orang-orang sholeh.


Wallahu'alam bishshowab

Menuju Pintu Kebahagiaan

Roda kehidupan senantiasa berputar, ada kebahagiaan dan kesedihan. Terhadap kebahagiaan janganlah terlalu bersenang-senang.Terhadap kesedihan janganlah berlarut-larut. Oleh karena itu, Allah menciptakan rasa syukur, sabar dan ikhlas.

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik.” (Ar-Rad : 22)

Setiap manusia senantiasa mengharapkan kebahagiaan. Di dalam konsep hidup yang diciptakan Allah, tidak ada kebahagiaan yang dapat dicapai dengan begitu mudah. Akan senantiasa ada kerikil-kerikil ujian yang menguji keimanan manusia untuk tetap bertahan atau terperosok dalam jurang kekufuran. Ibarat seorang bayi untuk dapat berjalan ia harus melalui serangkaian ujian mulai dari terjatuh, tersandung, terpeleset, dll. Tapi semua itu senantiasa ia nikmati dengan pintu keikhlasan dan kesabaran. Sehingga ia pun tertawa bahagia karena dapat berdiri sebagai wujud rasa syukurnya. Itulah salah satu desain kehidupan yang telah Allah ajarkan semenjak kita bayi. Bahkan semenjak kita di dalam kandungan, Allah telah mengajarkan rasa syukur.

"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur" (QS. as-Sajdah:7-9).

Semakin kita mempelajari tentang konsep hidup diciptakannya manusia semakin kita paham akan arti kehidupan. Allah telah memberi rumah-rumah keikhlasan dan kesabaran kepada kita, yang dilalui dengan jalan yang penuh dengan kerikil-kerikil ujian. Akankah kita tersandung dengan batu kekufuran ataukah terseok-seok tetap berjalan menuju rumah keikhlasan dan kesabaran untuk segera menutupnya dengan pintu kebahagiaan. Kini, tergantung kepada hati kita untuk tetap bertahan dengan kerikil-kerikil ujian. Bertahan dalam keimanan agar tidak terjerebab dalam kenistaan. Bertahan, bertahan, bertahan sehingga mampu menutup rumah keikhlasan dan kesabaran dengan pintu kebahagiaan. Pintu kebahagiaan manusia pasti akan dapat dicapai sesuai dengan kadar kemampuannya, sebagaiman firman Allah dalam Surat Al-Baqarah : 286

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa) : Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami ; ampunilah kami ; dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. “

Tidak hanya itu saja, Allah juga memberikan janji menuju pintu kebahagiaan kepada manusia bahwa didalam kesulitan pasti ada kemudahan.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Tetap Optimis!!!

Wallahu'alam bishshowab

Dakwah Media Dakwah Efektif

Menyeru manusia dalam kebaikan dan kesabaran merupakan perintah agama. Hal ini difirmankan Allah di dalam Al Quran surat Al-Ashr ayat 3, "Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan saling berpesan dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran."
Menyeru manusia dalam kebaikan dan kesabaran ini sering disebut sebagai dakwah. Dakwah pun dapat disampaikan dengan berbagai macam cara, bisa melalui lisan (empat mata), tablig akbar, taklim, liqo, bahkan lewat media yang berupa tulisan. Dakwah lewat media merupakan dakwah yang paling efektif.

Pertama, dakwah lewat media lebih tahan lama atau tidak gampang hilang-lenyap. Tiap saat, tiap waktu, bisa dibaca dan dibaca lagi. Seumpama ketika suatu saat iman kita lagi turun, kita bisa membacanya lagi

Kedua, dakwah lewat media bisa kita koreksi atau kita ralat.

Ketiga, dakwah lewat tulisan itu lebih sopan. Kata-kata lewat tulisan yang kita sampaikan itu bisa kita “rekayasa” pakai bahasa-bahasa yang halus (tepung kali).

Keempat, ini yang paling mutakhir. Kata orang-orang, dakwah lewat tulisan itu lebih keren dan lebih mengena. .

Kelima, Sobat, al-Quran saja ditulis. Ini nunjukin kalo tulisan itu penting. Bayangkan, padahal waktu itu kan sahabat udah hapal semua isi al-Quran, tapi masih aja susah-susah mereka tulis.

Keenam, bisa dapat penghasilan.

Ketujuh, dengan smua manfaat yang udah disebutin di atas, tentunya dakwah lewat nulis lebih efisien kan? Bisa kita lakukan kapan saja, dimana saja.

Kedelapan, dakwah lewat media dapat terjangkau diseluruh dunia. Jika hal ini dilakukan lewat tulisan.

Wallahu'alam bishshowab